Posts

Perkara Kolor di Pagi Hari

Image
  Fiuh! Aku menghembuskan napas panjang setelah mengantarkan anakku masuk gerbang sekolah TK-nya pagi ini. Ini bukan pagi yang ideal. Tadi malam aku tidak bisa tidur. Kepalaku penuh dengan berbagai pikiran yang rasanya datang bersamaan nggak pake ngantri. Jam empat pagi aku putuskan bangkit dari tempat tidur untuk mulai beraktivitas. Sejenak bingung mau ngapain dulu. Nyuci piring yang menumpuk di sink? Menyapu rumah yang penuh mainan berserakan di lantai? Atau duduk sebentar untuk bersaat teduh? Duduk saat teduh sambil menulis jurnal rasanya akan menjadi fondasi yang kuat untuk hari ini, tapi mengingat begitu banyak hal yang perlu dibereskan di rumah, sepertinya duduk tenang sejenak untuk me time terasa terlalu mewah. Aku segera ke dapur, mengeluarkan bahan makanan dari kulkas sambil mikir, ini mau dimasak apa ya? Lanjut nyuci piring, ngepel dan merapikan rumah, nyuci kain, lalu menyiapkan bekal ke sekolah dan ke kantor lengkap dengan snack-snacknya. Tubuh dan...

Kemana Saja Aku Selama Ini?

Image
   Beberapa waktu belakangan ini, aku sedang berjuang dengan penyesalan dan rasa bersalah, karena baru menyadari bahwa mungkin selama ini aku belum menjadi ibu yang seharusnya. Memang sebelumnya aku juga menyadari tiap kali melakuan kesalahan tertentu. Misalnya, ketika aku kurang sabar dan meledak marah kepada anak. Namun, kali ini rasa bersalah itu muncul dalam skala yang lebih besar dan kompleks. Seolah-olah aku baru melihat gambaran yang lebih besar dari semua yang sudah terjadi selama ini. Yang membuatnya terasa lebih berat adalah karena sebelumnya aku merasa baik-baik saja. Aku merasa telah bersikap bijaksana Jadi, sejak kembali bekerja setelah cuti melahirkan, suami menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengasuh anak kami. Kemudian, sempat juga ia membuka usaha makanan di rumah. Namun, karena melihat saat itu anak kami menjadi kurang terurus dengan baik, ditambah ia sedang membutuhkan terapi wicara, akhirnya aku memutuskan untuk meminta suamiku berhenti beke...

7 Pelajaran dari 7 Tahun Pernikahan

Image
“Pernikahan adalah untuk dua orang dewasa yang siap untuk memikul tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk membentuk rumah tangga dalam kasih yang tidak bersyarat. Bersama-sama bertumbuh dalam penyempurnaan karakter dan melakukan apa yang jadi panggilan Tuhan baik sebagai pribadi maupun sebagai keluarga.“ -   Rosdayanti dalam buku The Worthy Single Lady   Inilah kesimpulanku tentang pengertian pernikahan ketika selesai mengikuti kelas-kelas bimbingan pranikah di gereja, sekitar 7 tahun yang lalu.   Saat itu tak tergambar sama sekali dalam benakku hari-hari seperti apa yang akan aku lalui dengan pasangan untuk mewujudkan pengertian itu. Yang ada di benakku hanyalah kehidupan pernikahan yang bahagia dan yang manis-manisnya saja. Ibarat Pelajaran, aku baru tau teori, tapi belum tau praktiknya. Kini, ketika usia pernikahanku memasuki tujuh tahun, aku melihat bagaimana tahun-tahun ini membentuk karakterku. Aku belajar banyak dari berbagai tantangan, kesulitan, da...

Mengatasi Kecanduan Scrolling Medsos

Image
Bila kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, kita tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan hal yang benar-benar penting. Waktu berlari begitu cepat. Tak terasa udah hampir satu jam aku scroll-scroll medsos. Tadi niatnya hanya sejenak untuk melepas kejenuhan, barang 5 – 10 menit lah. Tau-tau udah satu jam lebih aja.  Hal seperti ini sering membuatku kesal karena menjadi tak sempat melakukan hal lain yang lebih penting. Alangkah akan lebih baik bila tadinya waktu satu jam itu aku pakai untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya baca buku, salah satu kebiasaan yang sedang aku perjuangkan agar bisa kulakukan rutin setiap hari. Tapi aku malah menghamburkannya untuk scrolling. Saat ini aku sedang membangun beberapa habit baru yang membutuhkan fokus dan waktu. Aku mencatat pencapaian habit itu dalam habit tracker. Supaya bisa konsisten melakukannya tiap hari dan menjadi system yang otomatis dalam hidupku. Namun, kendala utama yang aku hadapi adal...

Berempati Kepada Pasangan Sebagai Sesama Pasien

Image
  Dokter cintaku ...Kau sembuhkan sakit ku dengan resep cintamu  Rasa kecewa yang dulu tiada terasa lagi Dokter cintaku...Kelembutan sikapmu mengobati Lukaku Rasa kecewa yang dulu tiada terasa lagi Doter dokter cintaku engkaulah harapan  Dokter dokter cintaku engkaulah pujaan Begitulah lirik lagu Dokter Cinta yang pernah dipopulerkan oleh Evie Tamala di tahun 90-an. Lagu ini sangat relate bagiku ketika masih pengantin baru. Di mataku, suamiku terlihat begitu baik. Bijaksana. Bisa diandalkan.  Bagiku, pernikahan adalah fase terbaik yang pernah aku alami sepanjang hidupku. Sejak kecil aku hidup dalam keluarga broken home yang banyak menyisakan trauma dan luka batin. Di usia remaja dan dewasa aku terbiasa hidup dan berjuang sendiri, jarang ada yang ngurusin dan memperhatikan. Dan perlakuan suami yang begitu baik dan perhatian seperti obat penyembuh luka yang dianugerahkan Tuhan bagiku.  Ibarat pasien, aku melihat suamiku sebagai dokter yang mampu mengobati ku dal...