Kemana Saja Aku Selama Ini?
Beberapa waktu belakangan ini, aku sedang berjuang dengan penyesalan dan rasa bersalah, karena baru menyadari bahwa mungkin selama ini aku belum menjadi ibu yang seharusnya.
Memang sebelumnya aku juga menyadari tiap kali melakuan kesalahan tertentu. Misalnya, ketika aku kurang sabar dan meledak marah kepada anak. Namun, kali ini rasa bersalah itu muncul dalam skala yang lebih besar dan kompleks. Seolah-olah aku baru melihat gambaran yang lebih besar dari semua yang sudah terjadi selama ini.
Yang membuatnya terasa lebih berat adalah karena sebelumnya aku merasa baik-baik saja. Aku merasa telah bersikap bijaksana
Jadi, sejak kembali bekerja setelah cuti melahirkan, suami menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengasuh anak kami. Kemudian, sempat juga ia membuka usaha makanan di rumah. Namun, karena melihat saat itu anak kami menjadi kurang terurus dengan baik, ditambah ia sedang membutuhkan terapi wicara, akhirnya aku memutuskan untuk meminta suamiku berhenti bekerja dulu agar bisa lebih fokus mengurus anak kami.
Aku yang bekerja dan berperan sebagai pencari nafkah utama untuk keluarga dan suami yang fokus ngurusin urusan rumah dan anak kami.
Karena itu ketika ada masalah dengan anak, tentang perkembangannya, perilakunya, atau hal-hal yang menurutku kurang, aku biasanya dengan mudah melihat semua itu sebagai kesalahan di pihak suamiku. Dia kan di rumah, harusnya kan dia begini begitu. Seharusnya lebih memperhatikan ini. Seharusnya lebih banyak melakukan itu.
Dan setelah itu, aku bisa kembali menjalani hidupku. Aku jarang sekali melihat ada sesuatu dalam diriku yang juga perlu diperbaiki. Bahwa sebenarnya ada peran penting yang seharusnya bisa kulakukan dalam urusan parenting.
Sampai beberapa waktu belakangan, ketika suamiku kembali bekerja dan aku mengambil porsi yang lebih besar untuk mengurus anakku sehari-hari. Di situlah kesadaran itu muncul.
Anakku hampir berusia enam tahun. Dan beberapa waktu lalu, aku mendapat kenyataan yang cukup sulit untuk kuterima. Dia tidak naik tingkat di TK karena dianggap belum mampu mengikuti perkembangan atau kemampuan anak-anak lain seusianya.
Aku merasa telah begitu lalai. Aku melihat kembali semua yang sudah terjadi, semua keputusan yang pernah kubuat, dan semua kesempatan yang mungkin dulu bisa kugunakan untuk lebih memperhatikan tumbuh kembangnya.
Aku sadari, selama ini hanya aku sibuk bekerja. Sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk mengejar target dan pencapaian yang ternyata sebagian besarnya adalah tentang memenuhi kebutuhanku untuk merasa cukup, merasa berhasil, dan mendapatkan pengakuan.
Aku sering mendahulukan kepentingan pasangan dan orang lain, bahkan ketika itu berarti mengorbankan kepentingan anakku. Kadang demi mencari aman, Kadang demi terlihat baik, Kadang demi mendapatkan persetujuan orang lain.
Hatiku terasa sakit oleh penyesalan dan rasa bersalah atas hal salah yang sudah aku lakukan. Lalu aku melihat lagi betapa berharganya waktu yang dulu mungkin bisa kugunakan dengan lebih maksimal untuk mengupayakan tumbuh kembang anakku dengan optimal.
Dan pertanyaan ini muncul berulang-ulang di kepalaku:
Kemana saja aku selama ini?
Kenapa aku tak sadar lebih awal?
Menyadari keterlambatan itu, aku mulai membaca buku-buku tentang parenting. Dan semakin miris ketika membaca tentang betapa pentingnya tahun-tahun awal kehidupan seorang anak bagi perkembangan mereka. Tiba-tiba aku sadar, ada begitu banyak waktu berharga yang sudah berlalu dan tidak mungkin kembali.
Namun, pada saat itu aku malah merasa sudah melakukan yang terbaik.
Memutuskan agar suami berhenti bekerja dan aku menjadi pencari nafkah keluarga, bukankah itu terlihat heroik?
Aku pikir dengan bekerja dan memastikan terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga, aku sudah cukup menjalankan tugasku sebagai ibu yang baik.
Aku malah hanya menyalahkan suami atas pola asuhnya yang menurutku kurang baik selama ini. Hanya berhenti pada menyalahkan dan berharap dia berubah. Aku tak memperbaiki apapun, tak mengambil peran yang mungkin memang suami tak sanggup lakukan sekaligus. Karena kan sebenarnya ibu dan ayah punya peran khusus masing-masing untuk tumbuh kembang anak.
Namun walaupun kadang perasaan menyesal dan rasa bersalah masih menderaku, aku bersyukur karena masih diberikan kesadaran atas kelalaianku dan masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dan aku mau fokus mengupayakan apa yang bisa aku lakukan saat ini dan ke depannya untuk mengasuh dan mengasihi anakku dengan lebih baik.
Anakku tidak membutuhkan ibu yang sempurna. Dia membutuhkan ibu yang hadir, yang mau belajar, yang berani mengakui ketika dirinya salah. Dan ibu yang, ketika menyadari bahwa selama ini dia berjalan ke arah yang kurang tepat, masih punya keberanian untuk berbalik dan mulai berjalan ke arah yang lebih baik.
It’s never too late to make a positive change.
Sai sahat ma.
“Blame has never helped a parent become a better parent. Being kind to ourselves flows from understanding that parenting is a remarkably difficult task, that we all make mistakes, and that our deep intention to do what’s best for our children is what matters.
Being kind to ourselves increases our capacity to be kind to those we love most.”
-Raising a Secure Child, Kent Hoffman, Glen Cooper, & Bert Powell
