Thursday, September 22, 2022

4 Langkah Mudah Membuat Pantun


Empat kali empat

Sama dengan enam belas

Sempat tidak sempat

Harap dibalas

Demikian bunyi sebuah pantun yang aku hafal banget dari jaman SMA dulu karena biasa ditulis di akhir surat yang sering digunakan sebagai media komunikasi di kala itu. Apakah kamu juga familiar dengan pantun tersebut?

Pelatihan Menulis PGRI asuhan Omjay, gelombang 27 pertemuan ke 14 hari ini, bertema Kaidah Pantun. Suatu tema yang menarik yang disampaikan dengan sangat baik oleh narasumber Bapak Miftahul Hadi, S.Pd dan dipandu oleh seorang moderator yang juga ahli berpantun, ibu Lely Suryani, S. Pd., SD.

Kamu tertarik juga belajar membuat pantun? Yuk kita simak bareng-bareng ya…


Bunga Sekuntum tumbuh di taman,

Daun salam tumbuh di kota

Assalamualaikum saya ucapkan,

Sebagai salam pembuka kata

Sebuah pantun pembuka dari Pak Miftah, sang narasumber yang dilanjutkan dengan penjelasannya  mengenai dunia per pantun an.

Pantun berasal dari akar kata "Tun" yang bermakna baris atau deret. Asal kata pantun dalam masyarakat Minangkabau dan Melayu diartikan sebagai "pantun". Oleh masyarakat Riau disebut sebagai tunjuk ajar yang berkaitan dengan etika. (Mu’jizah, 2019).

Walau pantun identik dengan suku Melayu, namun tiap daerah di Indonesia juga memiliki pantun dengan sebutan berbeda-beda. Contohnya, di Mandailing Sumatera Utara dikenal dengan sebutan ende-ende dan di Sunda dikenal dengan sebutan parikan.

Pada 17 Desember 2020, UNESCO mengakui pantun sebagai warisan budaya tak benda, sehingga tanggal tersebut kita peringati sebagai hari pantun.

Langkah Membuat Pantun

Setelah kamu menyadari alangkah kerennya pantun itu, mungkin kamu bertanya-tanya, apa yang harus saya lakukan untuk bisa membuat pantun?

Berikut ini saya akan membagikan 4 langkah membuat pantun dari materi yang disampaikan oleh Bapak Miftakul Hadi.

Sumber: Miftahul Hadi, S. Pd

Pasti kamu sudah tidak sabar lagi dengan materi utamanya. Yuk kita mulai ke langkah pertama!

1.      Memahami Kaidah/Ciri Pantun

Sebelum kamu mulai menulis pantun, hal paling penting adalah memahami ciri dan kaidah pantun.

Ciri-ciri pantun adalah sebagai berikut:

Sumber: Miftahul Hadi, S. Pd

Kamu sudah selesai membaca ciri-ciri pantun tersebut? Sekarang coba tentukan, apakah karya sastra berikut ini adalah sebuah pantun?

Belajar mengaji harus semangat,
Tekun rajin sabar dan giat,
Agar ilmu mudah didapat,
Selamat dunia juga akhirat.

Bila dilihat dari akhir kata setiap baris, tulisan ini bukan bersajak a-b-a-b, melainkan a-a-a-a. Jadi tidak sesuai dengan ciri-ciri pantun.

Mungkin kamu bertanya, “Kalau demikian, disebut apakah karya sastra ini?” Mari kita bahas lebih lanjut!

Perbedaan Pantun dengan Syair dan Gurindam

Berikut ini tabel perbedaan pantun dengan karya sastra lain. Yuk dibaca dulu!

Sumber: Miftahul Hadi, S. Pd

Bisakah kamu melihat perbedaannya sekarang? Kamu benar! Bila sajaknya a-a-a-a, itu berarti syair.

Selain berbeda dalam urusan sajak, perbedaan pantun dengan syair adalah kalau pantun antara baris satu dan dua tidak ada hubungannya dengan baris tiga dan empat (sampiran dan isi berdiri sendiri), sedangkan syair antara baris satu sampai empat saling berhubungan.

Selain pantun dan syair ada lagi yang namanya gurindam. Jumlah barisnya ada dua. Antar baris satu dengan baris dua saling berhubungan (sebab akibat). Contoh gurindam:

Jika selalu berdoa dan dzikir,
Ringan melangkah jernih berpikir.

2.      Menguasai Perbendaharaan Kata

Dalam menulis pantun dibutuhkan ketelitian untuk memilih diksi. Jadi harus dipikirkan dulu mana kata yang pas, sehingga indah dibaca dan didengar. Jadi kita harus menguasai perbendaharaan kata.

Sebagai contoh, berikut ini tabel kosa kata yang bunyinya sama.

Sumber: Miftahul Hadi, S. Pd

Usahakan dalam memilih kata, jangan hanya satu huruf paling belakang yang bunyinya sama, minimal dua huruf. Memiliki perbendaharaan kata dengan rima sama semakin mempermudah kita dalam menulis pantun.

Mari kita baca pantun berikut ini dan berikan pendapatmu.

Sumber: Miftahul Hadi, S. Pd

Bila kita perhatikan, pantun nomor satu diberi warna merah hanya kata terakhir karena yang memiliki bunyi sama hanya di bagian akhir saja tiap barisnya. Hal ini disebut pantun dengan rima akhir sama.

Sementara pada pantun nomor dua, diberi warna merah terletak pada tengah dan akhir kalimat. Hal ini disebut pantun dengan sajak tengah dan akhir.

3.      Menulis Isi Pantun

Sekarang kita masuk ke langkah ketiga. Ciri pantun sudah mengerti, kosa kata juga sudah terkumpul. Yayy...Saatnya menulis pantun!

Isi atau maksud pantun terdapat pada baris ketiga dan keempat. Buatlah baris ketiga dan keempat (isi) terlebih dahulu. Jika isi pantun sudah jadi, maka sampiran akan mengikuti. Ikuti aturan berikut ya:

- Satu bait harus terdiri dari empat baris. Tidak boleh tiga atau lima.

- Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata.

- Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata.

4.   Membuat Sampiran

Sampiran atau pembayang ditulis di baris pertama dan kedua. Dari beberapa contoh pantun, sampiran bisa dikategorikan beberapa macam. Bisa menggunakan simbol alam, simbol tumbuhan, simbol hewan. Bisa menggunakan diksi bernuansa hikayat atau sejarah. Bisa juga tempat lokal yang menjadi ikon masyarakat setempat. kita boleh menggunakan simbol apa saja.

Hal-hal yang harus dihindari dalam membuat pantun:

- Hindari penggunaan nama orang dalam membuat pantun.

- Hindari penggunaan nama merk dagang.

- Hindari pengulangan kata di tiap barisnya.

 

Nah, sampai disini, apakah kamu sudah punya gambaran yang jelas tentang cara membuat pantun? Share pantun buatan kamu di kolom comment yukk..!

 

 

4 comments:

  1. Bagus Bu resumenya. Lengkap, banyak ilmunya

    ReplyDelete
  2. Wow, resume yang lengkap dan luar biasa. Terima kasih buu. Semangat berkarya, semangat menginspirasi.

    ReplyDelete

Price and Value – Karakter Seorang Pria yang Lebih Berharga Dibanding Uang

Uang (sumber: Unsplash)     “ A Gem Is Always A Gem. It'll Shine Bright like Always Even If You Put It in Charcoal. You Just Need To Ope...