Wednesday, January 3, 2024

Berapa banyak uang yang sebenarnya kita Butuhkan?

Ilustrasi Parenting (Sumber: Kelli Mcclintock-unsplash)

“Sebenarnya berapa banyak uang sih yang kita butuhkan?”

Aku mengajukan pertanyaan itu pada suami sambil merenung. sebenarnya pertanyaan itu aku tujukan pada diriku sendiri. Aku menghitung-hitung dalam pikiranku biaya hidup yang kami butuhkan setiap bulannya.

Saat itu aku menyimpulkan bahwa kebutuhan hidup kami sebenarnya nggak banyak-banyak amat. Selama ini kami menjalani gaya hidup sederhana dengan keinginan yang tidak terlalu neko-neko. Jadi seharusnya, penghasilanku perbulan bekerja di kantor masih bisa menutup kebutuhan hidup kami sehari-hari.

Karena itu aku menyarankan suami agar sementara berhenti jualan mie ayam setiap hari di rumah dan hanya menerima pesanan makanan di hari Sabtu Minggu. Sehingga di hari biasa dia bisa fokus ngurusin El, anak kami yang saat itu masih berusia 2 tahun.

Pasalnya beberapa bulan terakhir ini aku merasa hidup kami begitu kacau dan rusuh oleh terlalu banyak hal yang harus dilakukan.

Sejak suami mulai jualan mie ayam di depan rumah, pagi-pagi sekitar jam 4 subuh dia sudah berangkat untuk belanja bahan ke pasar. Begitupun denganku bangun pagi, langsung sibuk memasak untuk keluarga, beresin rumah dan ngurusin El.

Suami sepulang dari belanja, fokus nyiapin jualan, nyiapin sayur, bumbu, peralatan, bungkus makanan, dan membersihkan etalase jualan untuk siap mulai buka warung.

Sebelum berangkat kerja, aku udah mandiin El, lalu kami sarapan bersama. Aku berangkat ke kantor, suami di rumah nungguin warung mie ayam sembari jagain El.

Pada saat jam istirahat, aku yang ngantor tak jauh dari rumah, pulang untuk makan siang di rumah. Pada saat itu, biasanya aku mendapati El sedang berdiri di depan pembatas pintu depan dengan wajah cemong-cemong mungkin bekas makan sesuatu.

Suami kadang sibuk lagi masak pesanan pembeli, kadang sibuk mengecek apakah ada yang beli online dan selalu dalam keadaan siaga.

Sehabis makan siang biasanya aku bersihin badan El, mengganti baju nya dan menyusui hingga dia bobok siang. Lalu kembali ke kantor.

Pulang kerja, lagi-lagi pemandangan yang sama. Biasanya El lagi di depan pembatas pintu atau lagi nonton tivi sendirian di ruang depan. Wajahnya kembali cemong-cemong seperti nggak keurus.

Suami seperti biasa, sedang sibuk ngurusin pesanan. Kadang juga lagi pusing mikirin ternyata ada pembelian di online yang di cancel karena dia tidak lihat karena lagi sibuk ngurusin El.

Sekitar jam 8 malam suami tutup warung dan sibuk beres-beres bahan jualan lalu tertidur dalam keadaan kecapean. Tidur seperti orang pingsan.

Aku maklum, hanya mengurus anak bayi saja sudah merupakan suatu tugas berat ditambah lagi sambil jualan makanan yang perlu dimasak dulu. Pasti melelahkan.  Karena berbagai pertimbangan kami tidak menitipkan atau mencari orang untuk momong El saat itu.

El yang lahir di masa pandemi yang jarang berinteraksi dengan anak-anak seusianya seharusnya diberi stimulasi lebih intens agar kemampuan sosial dan bicaranya bisa lebih baik. Namun hal itu kurang kami prioritaskan. Kami terlalu sibuk dan lelah untuk mikirin metode stimulasi segala macam.

Saat anak rewel, solusi termudah adalah dikasih hape dan nonton video di youtube. Sangat ampuh untuk bikin anak anteng. Tapi aku juga kuatir. Sampai kapan mau begitu terus? Hingga usia El dua tahun, dia belum bisa mengucapkan banyak kata-kata sebagaimana seharusnya pertumbungan anak seusianya. 

Hal itu terjadi berbulan-bulan, sampai akhirnya aku merasa kesal. Kenapa hidup harus begini banget sih? Emang berapa banyak uang sih yang kita butuhkan? Seolah kami diperbudak oleh keadaan. Seolah ini adalah satu-satunya pilihan untuk menjalani hidup. Hidup tunggang langgang setiap hari hanya karena mencari duit yang tidak seberapa  juga, hingga anak harus terlantar nggak keurus.

Lalu akhirnya kami sepakat untuk suami fokus ngurus El dan membawanya ke dokter spesialis tumbuh kembang anak. Oleh dokter El disarankan untuk mengikuti  terapi wicara dan terapi okupasi. Untuk terapi ini kami menggunakan BPJS sehingga Suami memang butuh waktu khusus untuk mengurus surat rujukan dan membawa El ke RSCM setiap minggu untuk mengikuti terapi.

Bersyukur Setelah mengikuti terapi beberapa bulan, El mulai mengalami kemajuan dalam berbicara dan fokus.

Kadang di akhir pekan suami dapat pesanan makanan, kadang juga nggak. Aku melakukan beberapa penyesuaian di anggaran belanja bulanan untuk bisa meng cover semua kebutuhan kami walaupun suami sedang tidak ada pemasukan dari bisnis nya.

Kadang aku ragu apakah pilihan ini salah? Bukankah kita bekerja untuk anak juga? Apalagi kebutuhan hidup makin hari makin banyak dan makin mahal.

Akan tetapi, aku pikir pilihan itu adalah yang paling tepat saat ini. Nantinya suami bisa kembali jualan rutin atau bekerja lagi. Saat ini kami prioritaskan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang El. Menurut artikel yang aku baca, periode emas pertumbuhan anak berlangsung pada rentang usia 0-5 tahun yang merupakan fase awal yang akan berpengaruh pada fase selanjutnya.

Kami sebagai orangtua memang harus bertanggung jawab untuk bekerja keras menafkahi anak, namun anak tak hanya butuh makanan dan hal material lain. Anak juga butuh waktu, perhatian dan kasih sayang yang bisa menjadi basic yang baik untuk pertumbuhan anak di masa depan.

 

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." - Ibrani 13:5

 

No comments:

Post a Comment