Perkara Kolor di Pagi Hari
Fiuh!
Aku menghembuskan napas panjang setelah mengantarkan anakku masuk gerbang sekolah TK-nya pagi ini.
Ini bukan pagi yang ideal.
Tadi malam aku tidak bisa tidur. Kepalaku penuh dengan berbagai pikiran yang rasanya datang bersamaan nggak pake ngantri.
Jam empat pagi aku putuskan bangkit dari tempat tidur untuk mulai beraktivitas. Sejenak bingung mau ngapain dulu.
Nyuci piring yang menumpuk di sink? Menyapu rumah yang penuh mainan berserakan di lantai? Atau duduk sebentar untuk bersaat teduh?
Duduk saat teduh sambil menulis jurnal rasanya akan menjadi fondasi yang kuat untuk hari ini, tapi mengingat begitu banyak hal yang perlu dibereskan di rumah, sepertinya duduk tenang sejenak untuk me time terasa terlalu mewah.
Aku segera ke dapur, mengeluarkan bahan makanan dari kulkas sambil mikir, ini mau dimasak apa ya? Lanjut nyuci piring, ngepel dan merapikan rumah, nyuci kain, lalu menyiapkan bekal ke sekolah dan ke kantor lengkap dengan snack-snacknya.
Tubuh dan pikiranku bergerak cepat dari satu kegiatan ke kegiatan lain, dengan sigap dan waspada jangan sampai ada yang salah atau ketinggalan.
Aktivitas pagi yang dimulai dari jam empat subuh itu, ternyata tetap terasa kurang untuk mengerjakan daftar panjang pekerjaan rumah yang ada aja lagi, ada aja lagi, seolah tidak ada habisnya.
Sebenarnya tak semua harus dilakukan sekarang sih, tapi kok rasanya aku ingin sekali memastikan semuanya terkendali dan perfecto.
Kemudian aku membangunkan anakku dan memberinya sarapan. Menu sarapan yang harus mengandung protein, serat, kalsium dan teman-temannya. Satu hal yang untuk memikirkannya turut berkontribusi membuatku tidak bisa tidur tadi malam.
Sambil menunggu dia makan, aku menyiapkan seragam sekolahnya. Aku panik saat menyadari satu fakta genting pagi ini, stok kolor bersih anakku ternyata sudah habis.
Aku nyari-nyari di lemari tapi tak ada. Aku menimbang apakah perlu beli pampers dulu? Tapi rasanya udah nggak ada pampers yang cukup besar untuk ukuran badan bongsor anak ini. Akhirnya aku putuskan akan memakaikannya celana pendek agak kecil sebagai pengganti kolor.
Kemudian aku mandi dan berdandan cepat lalu memandikan anak yang udah selesai makan.
Setelah itu, kupakaikan dia seragam sekolah. Namun ternyata dia tidak mau memakai celana pendek agak kecil sebagai pengganti kolor tadi. Aku bingung, tapi akhirnya kupakaikan saja celana seragam sekolahnya. Dia berangkat sekolah tanpa kolor hari ini.
Hal itu membuatku merasa kacau. Ibu yang baik seharusnya sudah memastikan semua kolor anaknya tersedia, bersih, dan siap dipakai sejak malam sebelumnya. Sehingga sebuah pagi bisa masuk kategori ideal. Seolah ada semacam checklist tak tertulis tentang bagaimana seharusnya sebuah pagi berjalan.
Anak bangun dengan ceria. Sarapan habis. Mandi tanpa drama, jangan lupa sikat gigi. Seragam lengkap tersetrika rapi, termasuk kolor. Rumah rapi, lantai kinclong. Anak berangkat sekolah tepat waktu. Dan kalau salah satu saja tidak terpenuhi, rasanya seperti seorang ibu yang lalai.
Aku melangkah gontai menuju ke kantor sambil merenungkan, kok bisa ya aku kecolongan tidak memeriksa ketersediaan kolor anak?
Namun kemudian terbersit suatu pemikiran:
Memangnya kenapa kalau anakku tidak pakai kolor sekali-kali?
Emang apa yang akan terjadi?
Apakah dunia akan kiamat?
Apakah gurunya akan memanggilku dan berkata, “Bu, kami kecewa. Anak Ibu hari ini tidak memakai kolor.”
Apakah tidak pake kolor sehari akan memengaruhi masa depannya?
Tentu tidak.
Lalu kenapa aku harus merasa seolah itu adalah sebuah masalah besar?
Sepertinya aku sering terlalu fokus pada satu kesalahan kecil sampai lupa pada banyak hal baik yang sudah kulakukan. Seolah satu hal yang salah menutupi semua hal baik lainnya.
Mungkin aku perlu lebih sering mengingatkan diriku untuk menilai dengan lebih seimbang dan bersikap lebih sabar terhadap diriku sendiri.
Aku hanya manusia biasa. Aku bisa berhasil, tapi kadang juga gagal. Aku bisa benar, tapi kadang juga salah. Aku bisa teliti, tapi kadang juga lupa. Aku bisa tenang dan terkendali, tapi kadang juga merasa kewalahan.
Yang terpenting di hatiku ada cinta yang besar untuk anakku. Sebaik yang kupahami, sekuat yang kumampu, aku berusaha memberikannya yang terbaikku.
Lagian, anak berkolor atau tidak berkolor bukanlah ukuran suatu pagi disebut ideal atau tidak.
Hari ini anakku pergi sekolah tanpa kolor.
Dan ternyata, tidak apa-apa kok.
