7 Pelajaran dari 7 Tahun Pernikahan
“Pernikahan adalah untuk dua orang dewasa yang siap untuk memikul tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk membentuk rumah tangga dalam kasih yang tidak bersyarat. Bersama-sama bertumbuh dalam penyempurnaan karakter dan melakukan apa yang jadi panggilan Tuhan baik sebagai pribadi maupun sebagai keluarga.“
- Rosdayanti dalam buku The Worthy Single Lady
Inilah kesimpulanku tentang pengertian pernikahan ketika selesai mengikuti kelas-kelas bimbingan pranikah di gereja, sekitar 7 tahun yang lalu.
Saat itu tak tergambar sama sekali dalam benakku hari-hari seperti apa yang akan aku lalui dengan pasangan untuk mewujudkan pengertian itu. Yang ada di benakku hanyalah kehidupan pernikahan yang bahagia dan yang manis-manisnya saja. Ibarat Pelajaran, aku baru tau teori, tapi belum tau praktiknya.
Kini, ketika usia pernikahanku memasuki tujuh tahun, aku melihat bagaimana tahun-tahun ini membentuk karakterku. Aku belajar banyak dari berbagai tantangan, kesulitan, dan konflik yang kami hadapi sepanjang perjalanan ini.
Untuk saat ini, berikut adalah tujuh hal yang aku pelajari. Sebenarnya ada banyak sih, tapi bikin tujuh ajalah biar pas dengan judul tujuh tahun pernikahan. Hihi.
Aku percaya, pengertianku akan terus diperbarui dari waktu ke waktu, dan aku terbuka pada kemungkinan bahwa suatu hari nanti aku bisa memahami berbeda hal yang aku pahami sekarang.
Pernikahan itu bukan segalanya
Kesalahan yang selama ini aku lakukan adalah menjadi begitu bergantung pada suami, berpikir bahwa apa-apa harus sesuai arahan suami sebagai imam dan kepala keluarga.
Hal ini terjadi karena aku punya pemahaman yang kurang tepat saat mendengar perintah di Alkitab bahwa istri harus tuntuk pada suami. Seolah apapun keputusan suami adalah suara Tuhan.
Aku belajar bahwa tunduk pada pasangan nggak boleh membabi buta. Kita bisa menilai apakah keputusan suami adalah keputusan yang terbaik atau bukan dengan melihat kualitas kehidupan pria itu. Apakah dia memang dekat dan dengar-dengaran dengan Tuhan? Apakah hidupnya memang berjalan dalam kebenaran? Kalau nggak, ya kita pun diberikan hikmat dan kebijaksanaan oleh Tuhan untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dilakukan.
Pernikahan bukan segalanya, hidup di dalam kehendak dan tuntunan Tuhan adalah segalanya.
Bertanggung Jawab Penuh atas Panggilan Hidup Pribadi
Ada tujuan hidup pribadi yang spesifik bagi masing-masing orang dan tetap harus dijalankan sesuai panggilan Tuhan terlepas dari peran kita sebagai istri atau ibu. Jadi, tidak semua hal harus dilakukan bersama pasangan.
Aku sempat merasa kesal dan menyalahkan suami karena tidak bergerak ke arah yang sama dengan panggilan yang aku rasakan. Lalu aku sadari bahwa itu karena aku berharap suami lah yang melakukan apa yang menjadi dorongan hatiku untuk dilakukan.
Sikap ini membuatku menempatkan diri seolah aku adalah korban (victim), padahal seharusnya aku bertanggung jawab penuh atas hidupku dan untuk mengerjakan apa yang menjadi bagianku.
Menjalani panggilan Tuhan tidak selalu mudah dan sering menuntut kita keluar dari zona nyaman. Rasanya indah jika ada seseorang yang bisa diandalkan menyelamatkan dan menyelesaikan nya untukku.
Namun, kalau itu adalah panggilanku, maka concern itu akan terus meronta untuk dilakukan di dalam diriku. Bukan di dalam diri orang lain, meskipun itu suami.
Suami tidak bisa menjadi segalanya dalam hidup kita, termasuk menggantikan melakukan tugas kita. Namun, kita bisa memilih untuk fokus pada bagian apa yang ada pada diri suami yang bisa mendukung kita mengerjakan panggilan hidup tersebut.
Menghargai kehendak bebas orang lain
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu...” Matius 19:6 TB
Istilah “yang dua telah menjadi satu”, sering terdengar di lingkungan gereja untuk menggambarkan kesatuan pasangan suami istri. Namun aku memahami bahwa suami dan istri itu tetaplah individu tersendiri yang memiliki kehendak bebasnya sendiri.
Aku belajar bahwa banyak pertikaian dalam rumah tangga terjadi karena masing-masing merasa berhak menuntut pasangannya menjadi seperti yang diinginkan. Padahal, setiap orang berhak memutuskan dan bertindak sesuai kehendak bebasnya.
Kita sering merasa berhak karena posisi kita sebagai suami atau istri. Namun, apakah posisi itu membuat kita bisa mengendalikan orang lain? Bahkan Tuhan, yang memiliki hidup manusia, tetap menghargai kehendak bebas manusia.
Misalnya, saat aku kesal dengan perilaku atau kebiasaan buruk pasangan, dari ngomong baik-baik, ngomel sampai marah-marah sudah dilakukan, tetapi dia tetap tidak berubah, lalu apa lagi yang bisa aku lakukan?
Itu kan berarti dia memang tidak atau belum ingin berubah. Atas kesadarannya sendiri, dia memilih perilaku tersebut. Itu adalah kehendak bebasnya, dan aku perlu belajar menghormati pilihan itu dengan lapang dada.
Perilaku pasangan yang sering bikin aku marah biasanya adalah pola hidup dan pola makan yang kupahami sebagai kurang sehat. Lalu aku mendapatkan pengertian bahwa, orang yang pola hidupnya sembarangan, mengisi waktu dan makan makanan yang asal-asalan, adalah karena mereka belum menyadari betapa berharga hidupnya di dalam Tuhan.
Jadi daripada sibuk terus-menerus mengomel, marah, atau ngambek, aku memilih untuk berdoa agar pria itu diberi kesadaran dan mampu melihat kebenaran betapa berharga dan mulianya dirinya di hadapan Tuhan sehingga dia bisa bersikap dan bertindak sesuai dengan itu.
Memahami Apa itu Helping VS Enabling
Selama ini aku berpikir bahwa aku telah bertindak sebagai istri yang baik dengan melakukan segalanya bagi suami. Mengingat pesan dari lingkungan gereja yang sering menekankan peran istri sebagai penolong.
Penolong adalah memberi bantuan pada seseorang yang sedang mengerjakan sesuatu. Membantu ya, bukan menggantikannya mengerjakan pekerjaan tesebut.
Aku menyadari bahwa aku memahami keliru peran sebagai penolong tersebut dengan berusaha menyelamatkan suami dari segala konsekuensi tindakan-tindakannya.
Di kemudian hari, aku melihat bahwa hal itu kurang tepat. Suami jadinya tetap melakukan suatu habit atau perilaku buruk karena dia tidak harus menanggung konsekuensi itu. Kenapa pula dia merasa perlu berubah bila dia tak pernah menghadapi konsekuensi buruk dari perilaku tersebut?
Namun, itu bukan sepenuhnya kesalahan suami. Itu juga karena masih ada faktor keyakinan lama dalam diriku dimana aku merasa ada bagian / self role yang harusnya aku lakukan agar menjadi manusia yang berharga dan dinilai sukses oleh orang lain.
Karena kuatir pada apa kata orang, aku mau aja jadi martyr dengan melakukan apa yang seharusnya jadi tugas suami.
Fokus pada Tujuan Besar
Suami istri mungkin tidak selalu punya kesepakatan dalam arah yang mereka ingin tuju. Mungkin hal itu tidak menjadi masalah besar bagi ke dua belah pihak, yang mana sudah dewasa dan sama-sama bisa hidup mandiri tanpa satu sama lain.
Tapi yang perlu dipertimbangkan adalah, dalam ketidaksepakatan itu, biasanya anak-anak yang akan menjadi korban.
Orangtua yang sibuk berkonflik akan tidak punya waktu dan perhatian yang cukup untuk anak-anaknya.
Jadi, sebagai orang yang sama-sama sudah dewasa, alangkah baiknya bila kedua belah pihak bisa mengorbankan egonya masing-masing demi kepentingan pertumbuhan anak. Bagaimana agar kedua orang tua itu bisa memberikan lingkungan yang aman dan nyaman dan sehat untuk anak mereka bisa bertumbuh dengan optimal.
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Roma 12:18 TB
Apapun masalahnya, usahakan untuk fokus mencari solusi dan jangan mengupayakan perpecahan, bila itu bergantung padamu.
Memahami Konsep Forgive dan Trust
Aku pernah begitu dilema dalam hal membedakan kedua hal ini. Saat pasangan melakukan suatu kesalahan yang membuat rasa percayaku terkikis, aku bingung karena dalam batinku ada suara yang mendorongku untuk memaafkannya.
Aku mencoba untuk tawar-menawar dengan suara batin itu, dengan berkata,
“Bagaimana caranya aku memaafkan dia? Aku tak bisa mempercayai dia lagi dalam hal ini!”
Lalu suara itu menjawab, “Yah, siapa juga yang minta kamu trust, kan perintahnya cuma forgive.”
Lalu aku sadar. Iya juga ya. Kan aku nggak mungkin membohongi diri ku sendiri atas kenyataan dimana seseorang melakukan kesalahan yang sama tanpa melakukan tindakan perbaikan atau pencegahan di kemudian hari.
Lalu aku baca beberapa ayat yang memerintahkan untuk mengampuni, memang nggak ada kok perintah untuk ampunilah dan percayalah lagi. Seperti salah satu ayat ini:
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kolose 3:13
Aku bisa memaafkan pasangan yang berbuat salah tanpa kembali mempercayainya dalam hal yang mana dia sudah terbukti tak bisa dipercaya.
Aku perlu membuat batasan yang sehat dimana rasa percaya itu perlu diperjuangkan lagi dengan perubahan perilaku.
Misalnya bila pasangan terbukti tidak bisa dipercaya mengelola keuangan, berarti next time, aku tak boleh mempercayakan dia bulat-bulat mengelola keuangan kalau mau keuangan keluarga kami tetap aman dan stabil.
Seringkali Masalahnya adalah Dengan Diri Sendiri
Berbagai tantangan yang aku hadapi dalam menjalin relasi dengan suami telah membantu aku untuk lebih memahami diriku sendiri. Seiring dengan pemahaman itu, aku makin sadar bahwa seringkali masalah terbesarku bukan lah me vs pasangan. Tapi me vs myself.
Masalah terbesarku adalah dengan diriku sendiri, dengan trauma masa lalu yang belum pulih, dengan motivasi-motivasi yang belum murni, dengan harapan-harapan yang sombong, dengan keyakinanku akan apa yang aku anggap harus aku achieve atau buktikan pada dunia.
Dan pasangan adalah alat Tuhan untuk membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, memulihkan jiwa dan mengarahkanku pada karakter yang lebih sehat.
“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Amsal 27:17 TB
Contohnya, aku pernah begitu semangat mengatur perjalanan wisata keluarga ke suatu tempat yang untuk ke sana, butuh budget seluruh dana tabungan yang kami punya, karena biayanya mahal.
Kalau mau jujur, aku sebenarnya tak pengen-pengen banget mengunjungi tempat itu. Tapi karena aku pikir, bisa ke tempat itu akan membuatku terlihat keren di mata orang lain, aku paksakan diri dan suami untuk ke sana.
Saat itu suami dengan pemikirannya yang lebih rasional tentang biaya terbatas, menolak ajakan itu. Akhirnya kami nggak jadi pergi. Hal itu sangat menjengkelkanku.
Hingga aku tiba pada kesadaran, kenapa juga aku merasa harus bepergian ke tempat itu? Apa yang membuatku merasa itu penting banget untuk saat ini hingga harus mengorbankan banyak hal?
Aku lalu sadari bahwa itu karena aku masih mengejar validasi eksternal. Mencari pujian dan pengakuan dari orang lain. Aku jadi memahami apa di balik tindakan-tindakanku yang impulsive. Dan menyadari bahwa sebenarnya aku tak perlu kok membuktikan apapun pada siapapun.
Hasrat untuk ini itu yang bergejolak dalam diriku perlu aku pahami dan kelola sehingga hidupku bisa lebih tentram dan teduh dan tidak membuat hidup orang lain jadi ikutan bergejolak.
Saat kita belum selesai dengan diri sendiri, kita jadi cenderung reseh dengan hidup orang lain di sekitar kita.
Yah begitu sih yang aku pelajari dari seven years of marriage ini. Semoga pernikahan kami makin hari makin indah dan berkenan kepada Tuhan. Bergerak se arah dengan tuntunan dan maksud Tuhan dalam mempersatukan kami. Amin.
“The greatest marriages are built on teamwork. A mutual respect, a healthy dose of admiration, and a never-ending portion of love and grace.” - Fawn Weaver
