Posts

Showing posts with the label Marriage

7 Pelajaran dari 7 Tahun Pernikahan

Image
“Pernikahan adalah untuk dua orang dewasa yang siap untuk memikul tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk membentuk rumah tangga dalam kasih yang tidak bersyarat. Bersama-sama bertumbuh dalam penyempurnaan karakter dan melakukan apa yang jadi panggilan Tuhan baik sebagai pribadi maupun sebagai keluarga.“ -   Rosdayanti dalam buku The Worthy Single Lady   Inilah kesimpulanku tentang pengertian pernikahan ketika selesai mengikuti kelas-kelas bimbingan pranikah di gereja, sekitar 7 tahun yang lalu.   Saat itu tak tergambar sama sekali dalam benakku hari-hari seperti apa yang akan aku lalui dengan pasangan untuk mewujudkan pengertian itu. Yang ada di benakku hanyalah kehidupan pernikahan yang bahagia dan yang manis-manisnya saja. Ibarat Pelajaran, aku baru tau teori, tapi belum tau praktiknya. Kini, ketika usia pernikahanku memasuki tujuh tahun, aku melihat bagaimana tahun-tahun ini membentuk karakterku. Aku belajar banyak dari berbagai tantangan, kesulitan, da...

Berempati Kepada Pasangan Sebagai Sesama Pasien

Image
  Dokter cintaku ...Kau sembuhkan sakit ku dengan resep cintamu  Rasa kecewa yang dulu tiada terasa lagi Dokter cintaku...Kelembutan sikapmu mengobati Lukaku Rasa kecewa yang dulu tiada terasa lagi Doter dokter cintaku engkaulah harapan  Dokter dokter cintaku engkaulah pujaan Begitulah lirik lagu Dokter Cinta yang pernah dipopulerkan oleh Evie Tamala di tahun 90-an. Lagu ini sangat relate bagiku ketika masih pengantin baru. Di mataku, suamiku terlihat begitu baik. Bijaksana. Bisa diandalkan.  Bagiku, pernikahan adalah fase terbaik yang pernah aku alami sepanjang hidupku. Sejak kecil aku hidup dalam keluarga broken home yang banyak menyisakan trauma dan luka batin. Di usia remaja dan dewasa aku terbiasa hidup dan berjuang sendiri, jarang ada yang ngurusin dan memperhatikan. Dan perlakuan suami yang begitu baik dan perhatian seperti obat penyembuh luka yang dianugerahkan Tuhan bagiku.  Ibarat pasien, aku melihat suamiku sebagai dokter yang mampu mengobati ku dal...

Berbeda untuk Saling Melengkapi

Image
Satu perbedaan yang signifikan di antara aku dan suami adalah pada tingkat ambisi. Aku termasuk orang yang punya tingkat ambisi tinggi untuk mencapai sesuatu sementara suami cenderung lebih santai dan cepat puas dengan apa yang ada. Pada awal pacaran dia pernah bilang bahwa aku terlalu sibuk karena saat itu aku, seperti gasing, berputar dari satu kegiatan ke kegiatan lain hingga jarang sekali punya waktu untuk bersantai. Aku akui, aku memang sibuk dan lelah. Hampir tak ada waktu untuk santai. Tepatnya, aku tak membiarkan diriku santai. Dalam pikiranku, bagaimana mungkin aku santai? Orang miskin kok santai. Rasanya santai seperti tidak bertanggung jawab. Melihat semua beban keluarga dan penderitaan manusia di bumi yang perlu dibantu, bagaimana aku bisa santai? Bagiku pendapat itu tak masuk akal. Terlalu sibuk apa? Menurutku dialah yang terlalu santai. Hingga setelah kami menikah, perbedaan ini sering jadi masalah. Untuk beberapa waktu aku berusaha mengubah suami menjadi seperti ...

Apakah Dia Cinta Sejatimu? Temukan Jawabannya Melalui 4 Pertanyaan Ini!

Image
  Beberapa waktu lalu aku nonton film berjudul Life List . Berkisah tentang seorang Wanita Bernama Alex (diperankan oleh Sofia Carson) yang diingatkan kembali untuk mengejar daftar hal yang ingin dia capai dalam hidupnya yang dia buat ketika masih remaja. Ada beberapa point yang dia ingin capai dalam daftar itu, namun seiring waktu dia berusaha melupakan daftar itu karena kenyataan hidup yang tidak selalu mudah seperti memaksanya untuk puas dengan hal yang biasa dan mudah-mudah saja dengan dalih menjadi realistis. Satu hal yang menurutku menarik adalah pada point tentang keinginannya untuk menemukan cinta sejatinya. Saat itu dia pacaran dengan pria yang kriterianya di bawah standar yang dia dan keluarganya harapkan, tapi dia anggap itu sudah cukup. Dia bersikukuh bahwa pacarnya yang kurang masuk akal itu adalah cinta sejatinya. Lalu seorang sahabat memberikannya trik khusus untuk memastikan apakah pria itu memang adalah cinta sejatinya atau tidak. Yaitu dengan menjawab 4 pe...

Tujuan Menikah Sebagai Sarana Pembentukan Karakter

Image
  Aku pernah baca sebuah tulisan berbunyi, “Jika kamu ingin memberitakan firman Tuhan, tetaplah menjadi lajang agar kamu bisa fokus dan punya banyak waktu untuk melakukannya. Tapi jika kamu ingin menjadi seperti Kristus, menikahlah. Karena banyak sekali pelajaran yang bisa kamu dapatkan dari pernikahan yang tidak kamu dapatkan dari pengalaman lain dalam hidup.” Orang yang sudah menikah pasti tau bagaimana kehidupan pernikahan yang sebenarnya. Bahwa suatu hubungan perlu kerja keras jika ingin berhasil. Dalam prosesnya banyak terjadi konflik yang bisa membuat seseorang makin terbentuk karakternya menjadi lebih baik. Aku menikah pada umur 35 dan selama masih single aku menilai diriku adalah orang yang baik dan lovable . Lalu saat memasuki pernikahan aku akhirnya bisa melihat semua karakter burukku muncul ke permukaan. Bagaimana aku marah saat suami melakukan suatu kesalahan. Bagaimana aku bersikap pada mertuaku, pada anakku, membuatku sadar, ada monster di dalam diriku yang se...