Wednesday, February 7, 2024

Perkara Foto Aesthetic

 

(sumber: willian-justen-de-vasconcellos-unsplash)

Pada suatu hari, aku, suami dan El, yang saat itu masih umur setahun, piknik ke suatu taman di sekitar Jakarta. Taman itu indah dengan hamparan luas rerumputan hijau dimana para pengunjung bisa gelar tikar dan bersantai menikmati suasana.

Di sekitar taman terdapat beberapa jenis bunga dan pepohonan yang menyegarkan pemandangan. Cuaca yang sejuk plus awan biru yang cerah sebagai background yang menambah keindahan.

Kami menggelar tikar tak jauh dari sebuah pohon rindang. Tak berapa jauh dari tempat kami duduk, ada juga beberapa rombongan lain yang sedang piknik.

Aku suka suasana di tempat piknik itu dan terbersit ide dalam pikiranku untuk mengabadikan momen itu melalui berpoto bersama. Aku bayangkan alangkah akan indahnya foto keluarga di taman berumput hijau ini. Nanti aku akan post foto itu di media sosial dan semua orang akan melihat betapa bahagianya keluarga kecil kami.

Aku pun mengajak suami untuk ambil foto. Dengan semangat suami langsung mengambil hapenya dan segera bersiap untuk selfie. Dia mengarahkan hapenya ke depan agak naik untuk bisa meng capture gambar kami bertiga.

Hasilnya seperti foto selfie pada umumnya yang tampak hanya wajah-wajah nya doang. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin foto keluarga lagi piknik di taman berumput hijau yang aesthetic dengan menampilkan view di sekitarnya juga. Termasuk rumput hijau, pohon-pohon dan langit biru. Dan untuk dapat foto jenis itu, kami tak boleh hanya selfie. Kami butuh bantuan orang lain untuk fotoin.

Aku bilang ke suami agar kami meminta tolong pada orang-orang yang ada di sekitar kami. Kebetulan saat itu beberapa anak remaja lagi berdiri tak jauh dari tempat kami duduk.

Akan tetapi ternyata suami tak setuju dengan ide itu. Alasannya, dia nggak suka kalau harus merepotkan orang lain. Aku heran dengan benar-benar tak mengerti dengan pemikirannya itu. Menurutku itu hal yang lumrah. Tak ada orang yang akan keberatan dimintain foto satu cekrek dua cekrek. Bagiku pribadi, diminta fotoin oleh orang lain bukan hal yang merepotkan. Aku bahkan dengan senang hati akan mengarahkan gaya mereka biar fotonya bagus.

Suami tetap berkeras untuk tak mau minta difotoin orang lain. Aku juga berkeras bahwa itu tidak masalah. Kami memperdebatkan masalah itu selama beberapa saat sebelum akhirnya aku menyerah dan terima saja foto selfie.

Tapi aku menjadi sangat kesal karena hal itu. Aku diam dan ngambek selama kami di tempat piknik sampai seharian seteleh kami pulang ke rumah. Hanya karena keinginan ku untuk mendapatkan foto aesthetic tidak terpenuhi. Saat itu aku benar-benar nggak mengerti atas sikap suami. Apa salahnya sih minta tolong difotoin? Aneh banget deh nih orang!

Tapi kemudian aku nyadar, aku telah merusak moment piknik berharga kami dengan ngambek seharian hanya karena urusan foto. Apakah hal foto itu begitu pentingnya? Lebih penting dari kebahagiaan piknik itu sendiri?

Lebih penting mana foto estetik lagi piknik dibanding kebahagiaan kami yang sesungguhnya saat sedang piknik? Apakah kelihatan bahagia di medsos lebih penting daripada kebahagiaan nyata di moment tersebut?

Aku teringat akan pasangan selebritis yang kerap membagikan foto aesthetic mereka di medsos. Mereka foto di tempat-tempat terindah di dunia, dengan pose romantis, dengan kostum couple yang juga serasi, menggunakan jasa fotographer handal yang membuat kualitas fotonya semakin elegan, membuat iri siapa saja yang melihatnya dan menggelari mereka “couple goals”. Tapi ternyata kemudian pasangan itu malah bercerai. Ternyata foto-foto aestetic bukan jaminan bahwa keluarga itu beneran bahagia.

Hal ini menjadi suatu pelajaran bagiku untuk moment selanjutnya saat kami jalan-jalan ke tempat lain. Aku tak lagi begitu mempermasalahkan apakah kami berfoto secara aesthetic atau tidak. Aku tetap suka dengan konsep foto aesthetic tapi itu bukan lagi jadi prioritas yang begitu utama sampai harus mengorbankan moment indah kebersamaan itu sendiri. Aku juga belajar untuk menghargai keputusan suami walaupun hal itu bertentangan dengan keinginanku.

Aku sadari, aku dan suami punya latar belakang dan pandangan yang berbeda untuk beberapa hal. Dan seharusnya it’s ok bila kami tidak sependapat pada pilihan satu sama lain. Tidak perlu memaksakan kehendak dan tidak perlu selalu harus setuju. Sejauh itu bukan masalah yang terlalu prinsip, kenapa harus dibesar-besarkan? Penting banget nggak sih masalah iitu harus diperkarakan?


No comments:

Post a Comment