Friday, February 23, 2024

Kado untuk Diriku Sendiri

Kado untuk diriku sendiri (Sumber: kira-auf-der-heide-unsplash)

Bekasi, 23 Februari 2004

Saat itu aku baru lulus SMA, baru datang dari kampung, merantau ke Bekasi dan tinggal menumpang di rumah tante ku dan sedang dalam proses mencari kerja.

Aku belum begitu akrab dengan tante dan keluarga nya karena selama ini jarang ketemu. Paling ketemu sesekali saat mereka lagi pulang kampung ke Samosir dan mampir ke Sibolga, kampung halamanku. Di rumah tante, ada juga beberapa saudara sepupu ku yang aku belum begitu akrab karena baru bertemu di perantauan.

Hari itu adalah hari ulang tahunku. Aku menganggap hari ulang tahun adalah hari yang spesial dan bagaimana orang lain memperlakukanku di hari itu bagiku seolah menjadi ukuran keberhargaanku bagi orang-orang tersebut.

Ketika masih di kampung, biasanya di hari ulang tahunku akan ada banyak ucapan heppi besdei dari teman-temanku di sekolah, kalau di keluarga biasanya dari mamak dan dari salah satu adekku yang cowok. Teman-teman di sekolah suka merayakan ulang tahun dengan cara yang kurang masuk akal seperti nyiram dengan tepung atau blau, tapi hal itu malah membuatku senang. Karena dengan  tindakan itu, aku merasa diperhatikan dan dianggap berarti. Bahwa orang lain menganggap hari ulang tahunku yang aku anggap spesial itu adalah spesial juga.

Walau kado-kado yang biasa aku dapat hanya kado biasa seperti kotak pensil dan sejenisnya, tapi aku sangat bahagia karenanya. Bahkan aku pernah dapat kado kunciran rambut dari adikku yang cowok, yang menurutku sangat berkesan. Karena aku bayangin bagaimana dia, seorang anak cowok yang waktu itu masih SMP, belanja ke pasar dan milih-milih kunciran rambut untuk kado buat kakaknya. Usaha dan perhatian itu sangat membuatku terharu.

Lalu tibalah kini aku di perantauan. Berada di lingkungan dan orang-orang baru, yang walaupun mereka memperlakukanku dengan ramah, tapi aku masih merasa asing dan belum bisa beradaptasi dengan baik.

Di hari ulang tahunku itu, semua berjalan seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa. Aku menanti sepanjang hari, siapa tau akan ada orang yang ngucapin. Tapi hingga malam tiba, tak seorang pun yang ngucapin.

Tanteku dan saudara-saudara sepupuku tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Kemungkinan besar mereka tak tau bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. Waktu itu belum ada medsos seperti FB yang bisa memberikan notifikasi siapa yang ulang tahun.

Keluargaku di kampung yang waktu itu biasanya hanya nelpon sesekali dari warung telepon umum mungkin juga lupa akan hari ulang tahunku.  Atau bisa saja ingat, tapi tak terpikirkan untuk menelpon hanya untuk hal sepele seperti ngucapin heppi besdei.

Hingga malam tiba ternyata sama sekali tak ada orang yang ngucapin selamat ulang tahun padaku. Aku begitu sedih dan dalam diam aku menangis pilu di tempat tidur. Aku merasa begitu nelangsa, merasa tidak punya siapa-siapa dan seperti hidupku tak berarti sama sekali bagi siapapun. Di hari kelahiranku ini benar-benar tak ada orang yang peduli. Tak ada perayaan, tak ada kado, bahkan sekedar ucapan heppi besdei pun tidak.

Hatiku sangat sedih. Cukup lama aku menangis sampai aku sendiri merasa kasihan pada diriku sendiri.

Karena itu, aku bertekad untuk ulang tahunku selanjutnya, aku akan jadi orang pertama yang menyelamati diriku sediri. Aku akan beli kado untuk diriku sendiri. Aku tak akan menunggu orang lain, siapa pun itu, untuk melakukannya. Bila bagiku hidupku dan hari ulangtahunku adalah berharga dan spesial, maka aku sendirilah yang bertanggungjawab untuk membuatnya menjadi demikian.

Sejak saat itu aku tak lagi ngarep diucapin selamat ultah atau dikasih kado oleh orang lain. Aku tetap senang bila ada yang ngucapin dan ngadoin, tapi kalaupun tidak ada, tak lagi bikin aku termehek-mehek seperti waktu itu.

Selanjutnya, setiap menjelang ultah, aku excited memikirkan kado apa yang akan aku berikan pada diriku sendiri. Kadonya jarang berupa barang/benda, lebih sering dalam bentuk kegiatan atau pengalaman yang membawa improvement pada diriku sendiri. Misalnya aku ngasih diriku kado ikut suatu kursus ketrampilan, traveling ke suatu tempat atau membuat tanggal ultahku jadi momentum untuk memulai suatu habit yang baik.

Tahun ini, aku genap berusia 40 tahun. Oleh kemurahan Tuhan saja aku ada sampai saat ini. Aku merenungkan bagaimana hidupku telah berlangsung selama 40 tahun ini. 

Kehidupanku mungkin telah diawali dengan keadaan yang tidak begitu baik. Keadaan keluarga yang broken home, segala trauma masa kecil, segala terjangan masalah yang membuatku babak belur dan banyak kesalahan yang aku telah lakukan di masa lalu. Tapi walau awalnya tidak baik, aku ingin menyelesaikan seluruh sisa perjalanan ini dengan akhir yang baik. Finishing well.  

Kado yang aku berikan pada diriku di ultah kali ini adalah habit untuk rutin bangun pagi dan saat teduh minimal 30 menit tiap hari. Selama ini memang aku sudah melakukannya, hanya masih sering bolong-bolong dan kurang fokus. Kali ini aku mau lebih sungguh-sungguh dan konsisten.

Aku ingin berusaha mengerti apa yang Tuhan kehendaki bagiku secara pribadi dan melakukannya. Karena keberadaan ku di bumi ini adalah kehendak Allah untuk melakukan keinginan dan rencanaNYa.

Aku ingin hidupku menyenangkan hati Tuhan seperti tertulis dalam lirik lagu ciptaan Pdt. Dr. Erastus Sabdono ini.

Semua yang menyenangkan hati-Mu

Semua yang menyenangkan hati-Mu

Semua yang memuaskan hati-Mu

Ku mau lakukan segenap hati

Di sisa umur hidupku ini

 

T’lah banyak waktu yang sia-sia

Tak kulakukan kehendak Bapa

S’karang saatnya, tak ’kan kutunda

Membuktikan cintaku dengan nyata


Kerinduanku sebelum akhir hidupku

Melakukan yang Bapa ingini

Segenap hidupku sebagai persembahan

Yang berkenan di hadapan Tuhan

 

 

No comments:

Post a Comment

Price and Value – Karakter Seorang Pria yang Lebih Berharga Dibanding Uang

Uang (sumber: Unsplash)     “ A Gem Is Always A Gem. It'll Shine Bright like Always Even If You Put It in Charcoal. You Just Need To Ope...