Saturday, February 11, 2023

Too Good To Be True

Pada suatu hari Tante A, istri Om R adik kandung bapak, menelponku untuk menyampaikan kabar gembira. Katanya beberapa hari lalu seorang kerabat yang juga satu marga dengan kami (Hasugian) menelpon ke Om R. Kerabat ini, sebut saja namanya Om H menanyakan apakah Om ku punya ponakan yang masih single untuk dijodohin ke ponakan dia. Ponakannya ini adalah high quality jomblo, seorang dokter berusia 37 tahun. Sedang mencari pendamping hidup.

Tante A menceritakannya dengan penuh antusias demi mengetahui latar belakang profesi, dan segala sepak terjang si pria ini yang katanya adalah dokter spesialis, mapan dan bermasa depan cerah. Tanteku semangat membayangkan bila kami berjodoh.  

Aku juga semangat membayangkannya. Namun, aku merasa hal itu tampak terlalu bagus dan terlalu mudah. Too good to be true. Tapi bukankah muzijat bisa terjadi setiap saat? Siapa tau ini adalah jawaban doa kami selama ini.

Keesokan harinya Om R menelponku beberapa kali. Dia menanyakan kapan dia bisa menelponku. Katanya kerabat bernama Om H tadi ingin berbicara denganku untuk  mengenalkanku pada pria dokter itu. Aku sebenarnya agak penasaran kenapa si Om H itu yang harus menelponku, bukankah kalau mau kenalan cukup kasih nomor hapeku ke si pria dokter dan selanjutnya dia bisa menelponku sendiri? 

Om R menelponku sampai berkali-kali menunjukkan tampaknya ini urusan yang sangat genting. Seolah takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan tangkapan bagus.

Pada malam hari Om R menelponku. Dia memperkenalkan diri bahwa dia sudah kenal lama pada Om R, yang adalah Om kandungku sendiri. Kami pun sempat berbincang dalam bahasa daerah kami yang membuatku yakin bahwa pria ini bukan orang asing. 

Kemudian dia menjelaskan segala latar belakang ponakannya yang dia mau kenalin ke aku. Pria dokter itu. Dia berkata bahwa pria ini adalah anak dari adiknya, seorang wanita boru Hasugian, sama sepertiku. Sehingga pria ini mau mencari istri boru Hasugian juga karena pariban. 

Dia cerita bahwa si pria dokter ini sedang bertugas di Ternate dan akan pindah tugas ke RSCM Jakarta. Segala hal hebat diceritakan oleh Om R ini tentang si dokter, plus jaminan bahwa si pria ini adalah orang baik. Tidak merokok, tidak judi, tidak playboy dan sebagainya. Aku mendengarkannya dengan bersemangat.

Terus kemudian aku ditelpon oleh si pria dokter itu. suaranya seperti suara customer service, ramah dan riang dan banyak bicara. Dia bicara tentang banyak hal, segala yang dia ceritakan hebat-hebat semua, orangtuanya yang adalah kepala dinas apa, rumahnya di daerah perumahan elit yang baru dia beli, mobil yang disediakan kantor, dan segala macam. 

Kemudian dia membahas mengenai tragedi kematian orang tuanya waktu dia berumur 12 tahun. Katanya mereka sedang dalam perjalanan mau berlibur ke luar kota. Tiba-tiba di tengah jalan yang sepi, mobil mereka dicegat segerombolan orang. Dia berkata bahwa dia segera lari ke semak-semak dan menyaksikan orangtuanya dibantai oleh segereombolan penjahat yang mau merampok mereka itu. Aku sempat terbawa suasana demi mendengar kisah tragis situ.

Sampai pada suatu sesi pembicaraan, aku merasa seperti ada yang janggal. Si pria ini tidak berlaku sebagaimana latar belakangnya yang hebat itu. Dia terkesan sedang mau jual diri dan begitu gampang didapatkan. 

Kami baru saja kenalan tapi dia seolah berusaha meyakinkanku bahwa dia tertarik padaku dan kami langsung bisa melanjutkan perkenalan ini ke jenjang  yang lebih serius. Dia bahkan belum melihat potoku. 

Setelah selesai telponan, si dokter tadi kirim potonya padaku. Poto pria muda yang ganteng dengan baju putih kedokteran. Hmm.. too good to be true. Pria seganteng ini sedesperado itu mencari jodoh?

Aku akhirnya memikirkan bahwa pria ini memang patut dicurigai. Tanteku kemarin cerita, bahwa waktu Om H itu menanyakan tentang keluarga Om ku yang masih single siapa aja, Om ku merekomendasikan aku dan salah satu sepupuku yang lebih muda dariku. Dan si Om H itu lebih memilih aku yang usianya sudah di atas 30 an. Bukankah seharusnya dia memilih wanita yang lebih muda? 

Ini mirip seperti kasus yang aku pernah baca di suatu majalah wanita. Dimana wanita yang berusia 30 tahun ke atas, yang biasanya sudah stress dan desperado mencari jodoh bisa menjadi gampang di tipu. 

Jadi aku punya kecurigaan pada si pria dokter ini punya modus yang kira-kira sama. Dia tadi berkata bahwa dia akan pindah tugas ke Jakarta. Mungkin dia akan butuh ini itu dan hanya akan memanfaatkanku. 

Keesokan harinya dia masih menelpon, tapi aku tak menjawab. Selain karena sibuk kerja, aku juga sudah tidak tertarik. 

Sampai pada suatu pagi, aku ditelpon dan akhirnya aku jawab juga.

Aku bilang aku sedang di jalan mau ke kantor. Tanpa menunggu waktu lama, si pria dokter ini langsung melancarkan jurus-jurusnya. Dia bilang bahwa dia lagi sedang mengurus perpindahan ke Jakarta namun sedang ada kendala dengan urusan bank, blablabla. Dia memintaku mentransfer sejumlah dana yang akan segera dia kembalikan nanti. Hal ini sungguh membuktikan kecurigaanku. Tanpa banyak Tanya-tanya aku langsung menutup telponnya dan dia tidak menelpon lagi. 

Aku merasa kecewa dengan Om H yang mengaku sesama marga Hasugian itu. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu padaku kalau memang dia anggap aku kerabat. Tapi belum tentu juga beneran, bisa jadi itu hanya taktik penipuannya biar korbannya  lebih mudah diperdaya. Karena korbannya jadi tak menaruh curiga.

Sebenarnya hal seperti ini bukan sekali dua kali aku temui. Sebelumnya di media social,  FB juga aku pernah berurusan dengan pria yang mengaku bule yang sedang bertugas sebagai tentara PBB. Karena sibuk dengan urusan ketentaraan, pria ini sulit bertemu dan berkencan dengan wanita. Dan dia mencari jodoh lewat media social. 

Dia bilang dia langsung jatuh cinta begitu melihat foto profileku di FB. Dari awal dia berkata begitu manis dan menjanjikan akan melamarku, kami akan tinggal di Indonesia, dia akan membelikanku rumah dan mobil dan kami akan menikah dan hidup bahagia selamanya.

Ketika itu pun aku berpikir itu too good to be true. Tapi tetap berharap seandainya itu jadi kenyataan.

Aku sering chatting di FB dengan pria bule ini dan merasa bahagia dengan bagaimana manisnya kata-katanya.

Namun kesadaranku pulih saat dia katanya sedang dalam perjalanan ke Indonesia dan terkendala masalah di Imigrasi. Yang dia butuh dana sekian tapi dia sedang tidak bisa akses ke bank apalah apalah.

Aku segera tau, ini penipuan.

Aku sering baca berita wanita-wanita yang ditipu lewat pria yang kenalan di media sosial maupun aplikasi kencan online. Hal itu seharusnya tak perlu terjadi bila mereka lebih waspada dan tak terlalu mudah percaya.

No comments:

Post a Comment

Price and Value – Karakter Seorang Pria yang Lebih Berharga Dibanding Uang

Uang (sumber: Unsplash)     “ A Gem Is Always A Gem. It'll Shine Bright like Always Even If You Put It in Charcoal. You Just Need To Ope...