Thursday, February 9, 2023

Motivasi yang Salah

 Kita akan dipertemukan dengan apa yang kita cari.

Photo by Emile Perron on Unsplash

Pada tahun 2015 aku bergabung dengan salah satu situs dating online khusus Kristen. Seorang teman kantor yang juga single berusia 30 an mengajakku untuk bergabung. Dia sudah bergabung sebelumnya dan menurutnya cara ini akan membuka peluang yang lebih besar untuk bertemu jodoh.

Awalnya aku ragu dan gengsi. "Hah emangnya aku cewek apakah? Macam nggak laku aja." Aku berpikir bahwa ikut situs kencan online begitu seolah aku berniat jual diri.

Seperti memahami keberatanku, temanku tadi menjelaskan lagi bahwa ikut situs sejenis ini bukan berarti kita wanita murahan. Kita hanya berusaha membuka peluang untuk diri kita menemukan jodoh. Sama saja dengan kita minta dikenalin oleh teman atau saudara. Bedanya kalau hanya menunggu dikenalin kan lingkupnya terbatas.

Aku mulai merenung, ada benarnya juga. Tapi aku masih ragu untuk bertindak. Sampai temanku tersebut berkata bahwa ikut situs ini lumayan menguntungkan. Biar kita punya teman malam mingguan. Jadi kan nggak bosen hanya di rumah doang. Kan lumayan tuh, ada teman jalan-jalan dan traktir.

Hmm…ide brilliant! Aku berpikir itu adalah pikiran cerdas. Aku pun setuju untuk daftar di situs dating online itu. Dengan niat nyari jodoh, tapi kalau pun tidak dapat jodoh, tetap dapat keuntungan lain berupa dapat teman jalan dan gratisan.

Aku pun mulai mengisi biodata, membuat foto dan menyebutkan kriteria pasangan yang aku cari.

Aku belum tau tepatnya kriteria pria seperti apa yang aku cari. Aku hanya ingin dapat jodoh. Usiaku saat itu sudah 31 tahun dan aku harus bergerak cepat. Jadi aku hanya mengisi kriteria itu dengan asal.

Aku mulai berkenalan dan chatting dengan beberapa pria di situs itu. Aku kenalan dengan siapa saja tanpa banyak baca profil, yang penting lagi online aja. Banyak yang merespon tapi banyak juga yang tidak merespon. Dari beberapa yang merespon aku mulai perkenalan lebih lanjut.

Perkenalan berlanjut ke pertemuan dan pertemuan pertama berlanjut ke pertemuan kedua. Aku begitu sibuk dengan urusan bertemu dan penjajakan dengan pria-pria di situs itu. Walaupun dari awal aku tau bahwa aku tidak begitu tertarik dengan seseorang, namun aku tetap bersedia bertemu dengannya.

Misalnya, aku sebenarnya tidak suka pria yang merokok, tapi aku tetap bersedia ketemuan dengan pria yang dari profilenya juga mengatakan kalau dia merokok. 

Hal itu aku lakukan pada pria yang tampaknya tertarik untuk menjalin hubungan denganku. Walau aku tak punya ketertarikan padanya dari awal kenal, aku tetap membuka kesempatan untuk ketemuan dan jalan bareng karena aku merasa hal itu menguntungkanku dari segi materi.

Tapi…apakah aku happy saat jalan dengan pria-pria itu? Tidak! Sebenarnya tidak happy.

Aku bahkan takut bila terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan selama aku bertemu dengan mereka.

Aku pernah baca satu novel. Dalam novel ini diceritakan tentang seorang wanita yang sudah punya kekasih yang sedang bertugas di luar kota. Dia dan kekasihnya ini sangat saling mencintai dan berjanji akan menikah sekembalinya pria ini dari luar kota.

Wanita itu sangat cantik, banyak pria yang mengejarnya. Salah satunya adalah seorang pria kaya raya yang sering mendekatinya.

Wanita ini akhirnya memberi kesempatan. Dia menerima ajakan pria kaya itu untuk jalan bareng. Niatnya hanya untuk mengisi waktu dan untuk memanfaatkan harta si pria ini. Dia tak ada niat untuk menerima pria ini dari awal karena dia cinta banget pada pacarnya yang di luar kota itu. 

Saat dia jalan dengan pria yang kaya raya itu, dia menikmati segala fasilitas mewah yang disediakan. Pria ini begitu memujanya dan dia diperlakukan seperti seorang putri. Namun wanita ini tidak benar-benar disenangkan oleh keberadaan si pria tersebut. Dia hanya ingin bersenang-senang dengan kemewahan.

Suatu ketika, si wanita berniat mendepak pria itu. Kekasihnya yang di luar kota akan segera kembali. Wanita itu membuat skenario bagaiamana dia akan memutuskan hubungan itu. Saat itu mereka sedang berdua di pinggir pantai sambil menikmati minuman segar. Namun, sebelum dia sempat mengambil tindakan meninggalkan pria itu, ternyata pria itu sudah punya niat jahat di hatinya. Dia membubuhi minuman wanita itu dengan sejenis obat yang membuat wanita itu tak berdaya.

Wanita itu akhirnya diculik dan diperkosa dan akhirnya hamil dan mau tidak mau dia dinikahkan dengan pria itu. Hal itu menjadi suatu penyesalan yang besar bagi si wanita karena dia harus melepaskan pria yang sangat dia cintai demi menikah dengan pria itu.

Yah, mungkin itu novel memang disetting agak dramatis. Tapi bukankah hal itu bisa saja terjadi?

Bedanya, aku memang belum punya pacar yang sangat aku cintai. Tapi aku juga tak ingin  menghabiskan seluruh sisa hidupku menikah dengan pria yang tidak aku cintai.

Satu hal lagi yang bikin aku tak happy, aku merasa bersalah pada pria-pria itu. Aku merasa telah begitu munafik di depan mereka. Apalagi saat mereka harus bayar ini itu dalam urusan pertemuan itu, aku merasa telah menipu mereka. Aku sering merenung dalam hati, dana segini, aku juga bisa bayar sendiri. Aku juga bekerja dan punya penghasilan. Aku tak harus menipu orang lain hanya untuk ini. Keuntungannya gak sebanding dengan dosanya.

Aku kemudian menyadari kesalahanku. Aku telah buang-buang waktuku yang berharga dengan semua pertemuan itu karena aku memiliki motivasi yang salah. Aku dari awal hanya ingin mencari teman jalan yang bersedia traktir ini itu. Sehingga walau dari awal aku tak sreg, aku tetap mau jalan bareng.


No comments:

Post a Comment

Price and Value – Karakter Seorang Pria yang Lebih Berharga Dibanding Uang

Uang (sumber: Unsplash)     “ A Gem Is Always A Gem. It'll Shine Bright like Always Even If You Put It in Charcoal. You Just Need To Ope...