Wednesday, July 6, 2022

Pelajaran dari Pandemi Part 1 - Hanya Pengelola, Bukan Pemilik


Sebulan setelah kami menikah, negara ini dinyatakan mulai terkena wabah Covid19 yang tadinya hanya santer di luar negeri.

Tiba-tiba terjadi banyak perubahan. Pemberlakuan PPKM, wajib pakai masker dan segala tindakan protokol kesehatan lain mulai diterapkan.

Perkantoran juga banyak yang mulai memberlakukan work from home, sekolah-sekolah juga pada sekolah online.

Dampak dari Pandemi ini tak butuh waktu lama untuk mempengaruhi kondisi keuangan keluarga kami. Suami yang tadinya kerja di salah satu toko di daerah Cibubur terpaksa dirumahkan mengingat pendapatan toko tempat dia bekerja mengalami penurunan. Tapi walau dirumahkan, masih diberikan gaji pokok.

Waktu itu aku baru hamil. Aku yang mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk menyambut kelahiran anak kami, mulai kuatir dengan kondisi pekerjaan suami, tapi tak mau begitu mempermasalahkannya. Berharap ini hanya sementara, nanti juga akan kembali bekerja seperti biasa.

Waktu itu kami berpikir bahwa Pandemi ini, yang baru muncul di Indonesia pada awal Maret 2020 itu akan berakhir sekitar Agustus atau paling lama September 2020.

Untuk mengisi waktu selama dirumah, aku menyarankan suami mulai belajar untuk buka usaha makanan. Suamiku memang suka masak dan tampaknya dia tertarik buka usaha mie ayam. Jadi Suami ikut kursus online untuk membuat mie ayam.

Beberapa waktu setelah belajar itu, mulailah suami merintis usaha Bakmie Sakpenake.

Tapi namanya masih baru merintis ya hasilnya juga belum seberapa. Kami masih terus berusaha untuk meningkatkan penghasilannya.

Namun tak seperti yang diperkirakan, pandemi tenyata masih terus berlanjut sampai aku lahiran. Tak lama setelah aku lahiran, toko tempat suami kerja malah menghentikan gaji pokok yang selama ini masih di transfer. Tampaknya hal itu sudah tidak memungkinkan untuk keuangan toko tersebut.

Aku dan suami sempat merasa sedih tapi kami berusaha menerimanya dengan bersabar.

Banyak orang mengalami hal yang sama selama musim Pandemi ini, di PHK, usaha bangkrut dan berbagai kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Kami bersyukur waktu itu suami masih ada satu sumber penghasilan tambahan yang masih diterima dengan rutin dan aku juga masih bekerja dengan penghasilan yang tak berkurang walau Pandemi. Jadi masih bisalah dicukup-cukupkan.

Waktu itu aku mulai menyesuaikan budget bulanan dengan penghasilan yang berkurang. Sesuai persentase tiap pos, nominalnya dikurangi. Dan aku lihat kebutuhan hidup kami masih tetap bisa tercukupi. Apalagi selama pandemi kami jarang berpergian dan jarang jajan makan di luar, lumayan hematlah.

Aku lahiran pada bulan November dengan operasi caesar dan bersyukur bahwa segala kebutuhan setelah lahiran juga masih tercukupi.

Tapi tak lama kemudian, pedapatan tambahan yang biasa suami dapatkan ternyata harus terhenti juga. Waktu itu suami sempat tampak stress. Sementara hasil dari usaha bakmie juga belum seberapa.


Waktu lihat suami tampak stress, aku bilang padanya “Tak apa-apa. Tak usah stress. Tuhan pasti akan mencukupkan kebutuhan kita. Yang penting kita tetap berusaha bekerja keras dan bertanggung jawab. Hasilnya kita serahkan ke Tuhan. Lagian, saat ini yang paling penting adalah kita tetap sehat. Jadi jangan stress karena itu sangat berpengaruh pada imun tubuh kita.”

Terdengar sangat teduh ya, perkataan itu. Mungkin aku tampak seperti istri yang solehah dan pengertian banget 😅 

Tapi, hal itu berubah saat aku lagi menyusun anggaran bulanan dan menyesuaikan lagi dengan jumlah dana yang makin berkurang. 

Kebutuhan setelah punya anak makin bertambah, tapi penghasilan malah makin menurun. Yang tadinya segitu aja udah diirit-irit sedemikian rupa biar cukup. Mau se irit apalagi gaya hidup kami dengan kurangnya penghasilan ini? 

Kali ini gantian aku yang stress. Pusing bagi-baginya. 

Aku dipenuhi rasa kuatir akan hari esok. Karena kekuatiran itu aku jadi sering merasa kesal dan cenderung menyalahkan suami yang menurutku kurang ini, kurang itu, harusnya gini, harusnya gitu dll. Hal itu sempat mengakibatkan hubungan kami agak terganggu. 

Tapi sebenarnya aku tau, dia sudah berusaha melakukan yang terbaik nya. Aku juga lihat bagaimana dia kecapean tiap hari, bangun subuh dan belanja bahan mie ayam untuk jualan sehari-hari. Itu juga sembari jaga anak kami El di rumah sementara aku ngantor.

Aku tau kami berdua udah berusaha melakukan usaha yang terbaik...dan saling menyalahkan malah akan bikin hidup yang lagi susah jadi makin susah.

Waktu itu aku sering juga merasa bersalah akan sikapku terhadap suami yang cenderung seperti tak sabaran. Seperti ada suara yang ngomelin diriku sendiri: “Kemarin aja lancar kali muncung kau mengucapkan janji nikah, akan hidup rukun dan setia dalam suka duka, dalam kelimpahan dan kekurangan…, giliran uang belanja berkurang sikit, langsung merepet!”😅

Aku juga pernah dengar katanya berkat Tuhan tercurah bagi orang yang hidup rukun. Kalo kami berantem mulu, tar berkatnya jadi lewat. Dalam hal ini tak hanya berkat materi, tapi juga berkat sukacita, damai sejahtera dan kesatuan hati dalam keluarga.

Jadi aku berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif. Aku percaya Tuhan punya tujuan untuk segala sesuatu yang Dia ijinkan terjadi dalam hidupku.

Akhirnya, melalui suatu perenungan, aku mendapat satu pengertian dalam hatiku. Pengertian bahwa semua ini bukan milikku. Semua ini bukan milik kami. Uang yang sedang kami kelola saat ini adalah milik Tuhan. Kami hanya pengelola saja, bukan pemilik. Bukan saja uang atau harta, bahkan seluruh hidup kami milik Tuhan.

Dengan aku kuatir begini seolah aku merasa bahwa aku adalah tuhan atas hidupku sendiri. Yang berkuasa mengendalikan segala sesuatu dalam hidupku. Padahal kan nggak. Aku masih bisa hidup sampai sekarang juga adalah suatu anugrah dan hanya atas persetujuan Tuhan.

Sebagai pengelola, aku harusnya tak perlu kuatir. Aku hanya perlu bergantung pada Tuhan. Bertanya dan meminta arahanNya, untuk apa sebaiknya dana itu digunakan dan taat pada arahan itu.

Pengertian itu membuatku tak lagi begitu kuatir. Aku tetap berusaha membuat budget sebaik mungkin dengan dana yang ada dan berusaha menggunakan dana dengan tepat.

Bila saat aku masih single, motivasiku belajar mengelola keuangan adalah biar bisa dipercaya oleh suamiku untuk mengelola keuangan keluarga, saat ini motivasiku berubah. Motivasiku adalah untuk bisa jadi pengelola yang baik atas segala sumber daya yang Tuhan telah percayakan untuk aku kelola. Termasuk uang, termasuk waktu, termasuk talenta. Aku ingin jadi pengelola yang baik yang bisa dipercaya oleh Tuhan.

Aku bersyukur bahwa hal-hal sulit yang Tuhan ijinkan kami hadapi menuntunku pada pengertian yang benar. Dan aku melihat sampai saat ini, pertolongan Tuhan memampukan kami bisa melewati hari demi hari dengan baik dan mencukupkan segala yang kami butuhkan.

 

No comments:

Post a Comment